Sunday, December 11, 2011

NEGERI KITA NEGERI FATALIST

Manusia hidup memang harus dipenuhi dengan harapan. Tanpa harapan manusia akan menjalani aktifitas hidup hariannya dengan sangat garing. Kegaringan dalam aktifitas akan membuatnya menjadi semacam rutinitas biasa yang pada akhirnya mematikan semangat untuk meningkatkan kualitas hidup. Layaknya gorong-gorong yang pengap dan bau seperti itulah hati orang-orang yang fatalistis tidak memiliki harapan dalam setiap jejak langkahnya.

Fatalime memang telah menjamur di benak setiap insan yang mencoba berfikir tentang negara. bagaimana tidak, setiap hari kita disuguhi berbagai wacana yang bertemakan kepedualian terhadap negara. tetapi semua itu terasa tidak ada efeknya ketika melihat masalah-masalah yang selalu timbul di negara ini. sebut aja korupsi. Inilah momok paling menyebalkan. Kok ya tega-teganya melukai tubuh bangsa kita sendiri. Kok ya mau-maunya membuat kedaulatan negara kita ini semakin rendah dan lemah. BELANDA yang penjajah bangsa ini saja membangun infrastruktur dengan "sepenuh hati". Lihat, sampai sekarang, kira2 seabad lebih sudah beberapa bangunan yang dibuat oleh belanda masih berdiri kokoh menghiasi ruang-ruang kota. itu yang penjajah saja seperti itu. harusnya kita yang mendiami negara kita sendiri, yang setiap hari makan tidur B.A.B di negara sendiri harusnya bisa lebih baik donk. atau minimal sama. tapi coba amati runtuhnya jembatan seharga milyaran rupiah yang ada di Kutai itu ambruk sebelum masa gunanya habis. ironis ya? saya pikir keterlaluan. Korupsi tapi yang dikorup uangnya sendiri. Kalau begini percuma lah tiap hari di media selalu saja ada pembicaraan2 yang membahas korupsi. Pada akhirnya cuma jadi tren komersil media saja. Tidak berdampak pada apapun kecuali rating TV yang makin melejit (mungkin).

Kemarin (9/12) adalah hari peringatan anti korupsi sedunia. Beberapa daerah menggelar sandiwara demokrasi berupa teriakan2 anti korupsi yang muncul dari mulut2 para demonstran. Langit2 kota seperti penuh dengan spanduk bertuliskan "Koruptor Mati!!". Bahkan ada yang ekstrim dengan membakar diri. Beberapa dari anda mungkin tidak setuju kalau saya sebut sebagai sandiwara. Ya, tidak masalah. Buat saya hal-hal seperti itu adalah sandiwara. Seperti halnya kita sedang menonton suatu pementasan drama, berbagai macam akting yang dilakukan dengan sepenuh hati akan membuat kita berdecak kagum tetapi begitu pementasan selesai selesai juga decak kagum kita dan mulai tersisa kursi2 kosong. Inilah gambaran di negeri kita. Para penguasa ibarat penonton sebuah drama. Mereka tertawa terbahak2 dan bertepuk tangan, bahkan mereka pun ikut menangis ketika pertunjukan drama menawarkan sesuatu yang pilu. Dan ketika pertunjukan selesai, mereka (penguasa) pun selesai dengan segala macam tingkah polahnya. Demonstrasi digelar maka itulah ajang dimana penguasa mulai ikut menangis, tapi yang sering mereka lakukan ya tertawa terbahak2. Mentertawakan para demonstran dengan segala  suguhan teatrikal uniknya. Inilah parodi. Sepilu apapun aksi massa keadaan seakan tidak mau berubah. Dan para penguasa telah berjasa memunculkan fatalisme di setiap benak anak bangsa.

Saya pernah bermimpi bahwa di negeri ini sebenarnya kita tidak pantas untuk menyerukan sebuah harapan. sebentar saja harapan dimunculkan sudah dimatikan oleh penguasa. sepertinya sistem demokrasi yang dijalankan di negara ini memang seperti itu. Janji2 baru muncul sebagai harapan tetapi pada akhirnya tidak banyak yang diwujudkan dengan alasan keadaan mendesak untuk tidak mewujudkan janji2nya yang dulu. Ya, demokrasi di negara kita yang dilambangkan dengan pemilihan wakil rakyat secara langsung sudah terbukti gagal mewujudkan harapan rakyat akan adanya perbaikan. Reformasi pun hanya sebatas pemindahan kekuasaan saja, tidak ada perubahan fundamental di dalamnya. Wajahnya saja yang ganti tetapi ciri dan kelakuan tetap sama. Dan saya simpulkan, itu bukanlah demokrasi. Benar2 mimpi buruk.

Tapi di dalam mimpi saya itu sebenanrnya saya mulai menanam sebuah harapan. Saya masih melihat bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang tepat. Pemilihan umum tetap jadi jalan terbaik dalam penyaluran aspirasi masyarakat. Tapi sayangnya keluhuran filosofis pemilu tersebut rusak karena adanya sistem kepartaian di dalamnya. Partai Politik, kalau kitta mau dewasa menyikapi, sebenarnya adalah jalan paling baik untuk menuju pada perpecahan. Lihat saja, orang-orang beramai2 mengenakan baju yg berbeda2 tetapi yang mereka bicarakan adalah persatuan bangsa. Secara logika sederhana hal tersbeut sudah gagal. Mau bersatu kok pakai baju yang berbeda2. Mau bersatu kok harus membuat kelompok2 kecil dulu. Yang ada malah saling serang antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Dengan kata lain, hadirnya parpol akan semakin membawa negara ini menuju disintegrasi nasional. Tiap orang akan "dipaksa" untuk masuk ke dalam golongan2 tertentu dan berbuat sepenuh hati untuk kepentingan golongan tetapi kulitnya adalah atas nama bangsa. Sekali lagi kita pikirkan, bukanhkah itu aneh? Ya, kalau mau memecahkan negara dan bangsa ini, bikin saja partai. makin banyak partai makin cepat bangsa dan negara kita ini hancur.

Itulah yang saya gambarkan di mimpi saya itu. Betapa harapan yang tinggi sekalipun akan jatuh pada titik dasar dan akan memberikan rasa sakit yang amat sangat. Dari mimpi saya itu juga pada akhirnya saya harus berbicara bahwa eksistensi parpol di negeri ini harus dihapus karena tidak sesuai dengan pancasila. bagaimana bisa bersatu kalau masyarakat sudah dipecah2 seperti itu, Pembelajaran politik hanya sampai pada tataran menyeru pada satu golongan saja. Pembelajaran politik hanya sampai pada bagaimana agar si A berkuasa atau si B jatuh terpuruk masuk ke bui. Rendahan sekali perpolitikan di negara kita ini.

Mengurus negara memang tidak mudah. Mekanisme check and balance harus ada di dalam sistem pemerintahan negara. Dengan bentangan alamnya yang luas negara ini mutlak memerlukan konsep keterwakilan agar aspirasi yang ada bisa terakomodasi dengan baik dan tepat. di sinilah letak permasalahannya. Pemilu yang selama ini ada harus didekonstruksikan kembali sesuai dengan kaidah2 kenegaraan kita. Negara kita ini negara kesatuan maka bangunlah sebuah sistem yang memang menuju pada kesatuan. Jangan lagi menggunakan Parpol untuk menentukan siapa calon terbaik dari daerah. Gunakanlah cara2 yang cerdas dalam memilih siapa orang yang pantas untuk mewakili suara daerah. Dan cara cerdas itu bisa kita adopsi dari cara2 yang digunakan oleh PTN/PTS dalam merekrut mahasiswa baru. Seleksi semacam ini harus mulai dikembangkan dalam agenda pemilihan wakil rakyat. Sehingga wakil2 rakyat terpilih tersebut adalah benar2 orang dengan kapasitas dan kapabilitas yang tepat. Dengan demikian setiap apa yang dilakukan oleh eksekutif akan dapat dikontrol dengan tepat dan benar2 ditujukan untuk kemakmuran rakyat secara umum dan menyeluruh.

Memang, memperbaiki negara tidak semudah memperbaiki mainan anak2 yang sudah rusak. Banyak sekali orang yang mengkalim bahwa dirinya ada untuk membela tanah air membersihkan negara ini dari para koruptor agar ia dipilih menjadi wakil rakyat. Gak kalah banyak juga aparatur2 negara yang sangat gemar menyerukan pembayaran pajak tepat waktu agar banyak juga uang rakyat yang bisa "dikondisikan". Ya, kita dihadapkan pada suasana hidup bernegara yang beresiko sangat tinggi. Wajar jika pada akhirnya banyak orang2 yang merelakan dirinya menjadi bomber karena memang dia sudah tidak mampu melihat setitik kebaikan di negara ini.

Negeri kita negeri yang fatalist. Setiap konsep baru yang membawa harapan baru dianggap oleh status quo sebagai sebuah ancaman sehingga apapun dilakukan untuk mementahkan harapan baru tersebut. Negeri kita negeri fatalist, tak peduli sekeras apa kita berfikir dan berharap, pada akhirnya kita hanya akan dihujani dengan sampah2 politik yang busuk baunya. Negeri kita negeri fatalist, masih sanggupkah kita untuk berharap?? [ ]

No comments:

Post a Comment